“Karakter Guru Sebagai Pendidik Berpengaruh Terhadap Masa Depan Anak didiknya”

Salah satu pendidik yang sagat besar pengaruhnya terhadap anak didiknya adalah orang tua. Melalui kehadiran orangtua anak dapat mengenal indahnya dunia dan memahami suka- duka dalam kehidupannya. Melalui orangtua maka anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan bahasanya. Untuk selanjutnya melalui orangtua pula seorang anak dapat mengenal sosial atau mengenal orang lain.

Seiring dengan bertambahnya usia anak maka makin luas pula pengetahuan mereka, pada akhirnya setiap anak mengenal dunia sekolah dan sekaligus menjadi anggota atau kelompok sosial di sekolahnya. Di sini mereka mengenal sosok figur atau pendidik yang bisa mereka kagumi, takuti dan segani yang mereka panggil sebagai guru yang punya peran sebagai orang tua mereka di sekolah. Guru lah pendidik bagi anak di sekolah, setelah keberadaan orang tua yang di rumah, yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan perkembangan jiwa dan kepribadian anak.

Tujuan dari pembahasan ini untuk mengetahui beberapa karakter guru sebagai pendidik, dan seberapa besar pengaruh dari karakter guru sebagai pendidik tehadap masa depan pendidiknya? selain itu, apakah karakteristik guru membawa anak didiknya kearah yang lebih baik atau malah memberikan dampak buruk dari peserta didiknya?

Guru adalah manusia biasa dan sebagai manusia biasa dalam melaksanakan peran sebagai pendidik dan sebagai pemimpin bagi anak didiknya dalam pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar) mereka memiliki gaya tersendiri. dari hasil observasi yang saya temukan, ada tiga tipe kategori dari gaya guru sebagai pendidik yaitu; gaya otoriter, gaya masa bodoh dan gaya demokrasi.

Yang pertama, kita pasti pernah berhadapan dengan guru dengan gaya atau karakter otoriter ini, dimana  memperlihatkan kekuasaan mutlak atas anak didiknya selama pelaksanaan PBM (proses Belajar Mengajar) dan karakter otoriter ini juga dapat mendatangkan mimpi buruk bagi setiap anak didik. Senyuman manis dan kata- kata yang lembut merupakan barang yang langka yang diperoleh dari guru berkarakter otoriter ini. Guru killer adalah istilah lain yang diberikan oleh anak didik untuk guru berkarakter otoriter  tersebut.

Kedua, guru dengan karakter masa bodoh. Karakter seperti ini cendrung menurunkan kualitas budaya sekolah. Suasana kelas akan menjadi amburadul, apalagi bila anak didik dikelas cukup banyak. Peranan guru yang berkarakter “masa bodoh” ini bisa agak bagus apa bila ia mengelola kelas dengan anak didik sedikit. Guru dengan karakter demikian perlu bersikap lebih tegas dan punya prinsip atas nilai kebenaran. Menambah kualitas ilmu dan wawasan dan kemudian bersikap lebih tegas akan mampu mengatasi karakter masa bodoh tersebut.

Terakhir, Guru yang berkarakter demokrasi adalah guru yang memiliki hati nurani yang tajam. Guru dengan karakter beginilah yang mampu menghadirkan hatinya dalam emosi anak didik selama pembelajaran. Guru berkarakter demokrasi dan memiliki wawasan yang tinggi tentu akan mampu memenangkan hati anak didik atau memotivasi mereka dalam pembelajaran. Guru yang mampu menghadirkan hatinya pada hati anak didik disebut sebagai guru yang baik dan mereka akan dikenang oleh anak didik sepanjang hayatnya. Yang lebih banyak dikenang adalah guru yang baik.

Setiap anak didik telah banyak mengenal banyak guru dalam hidupnya, ada guru yang pintar dan ada guru yang baik. Sekali lagi bahwa guru yang berkesan bagi mereka adalah guru yang menghadirkan hati atau emosinya saat melaksanakan PBM. Guru yang cerdas atau pintar namun memiliki pribadi yang kaku, mungkin juga kasar, kurang bisa bersimpati, pasti tidak banyak memberi pengaruh kepada anak didik.

Guru yang mampu memberi pengaruh untuk masa depan anak didik lewat kata- kata atau bahasanya adalah guru yang memiliki pribadi yang hangat dan juga cerdas. Untuk itu adalah sangat ideal bila setiap guru mampu meningkatkan kualitas pribadinya menjadi guru yang cerdas, yaitu cerdas intelektual, cerdas emosi dan juga cerdas spiritualnya. Maka guru- guru yang beginilah yang patut diberi hadiah dengan lagu “guru pahlawan tanpa tanda jasa”.

Yang paling penting dari Artikel ini adalah??

“Kata kata yang diucapkan oleh guru kepada siswa atau anak didik dalam pergaulan mereka di sekolah sangat menentukan masa depan mereka. Kata kata yang diucapkan oleh guru pada anak didik ibarat panah yang lepas dari busur. Kata yang keluar dari mulut guru akan menancap pada hati anak didik. Bila kata- kata tadi melukai hati mereka, maka goresannya akan membekas sampai tua. Sering kata kata yang tidak simpatik dari seorang guru telah menghancurkan semangat hidup mereka. Sebaliknya kata kata yang mampu memberi dorongan semangat juga sangat berarti dalam menumbuh dan mengembangkan semangat hidup- semangat belajar dan bekerja mereka. Maka untuk itu guru perlu menjalin hubungan dengan anak didik lewat kata- kata yang berkualitas.”

About pmancoffeemix

seorang anak remaja,, tidak miskin, kurang kaya,, tetapi sederhana...

Posted on Desember 28, 2010, in Artikel. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Sepertinya karakteristik itu juga ada pada dosen,,, dan sepertinya dosen-dosen pun yang notabene jauh lebih tinggi dari guru biasa masih dapat dikasifikasikan kepada tiga tersebut,,,… heh,,,hem,,hem…. http://ahnku.wordpress.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: